
Oleh:
Fahri Hidayat
Saat gelombang Bangsa Mongol berhasil masuk, membanjiri, dan memporak-porandakan Ibu Kota kekhilafahan Islam, Bagdad, seketika para penguasa islam yang masih tersisa segera bersatu dan bekerjasama untuk membendungnya supaya tidak semakin meluas. Kerajaan-kerajaan Islam yang tadinya saling memerangi ini entah mengapa tiba-tiba bersatu padu kembali. Mungkin memang seperti inilah kecenderungan yang ada disetiap manusia, pada saat dalam kondisi kuat mereka saling membangga-banggakan diri dan lalai. Bahkan saling memerangi antara kerajaan Islam sendiri, terkadang hanya karena masalah-masalah sepele! Namun jika keadaannya sudah sangat genting seperti ini, tak ada pilihan lain selain bersatu dan mempertahankan wilayah Islam yang masih ada. Bayangkan saja, luas wilayah yang dihancurkan oleh Bangsa Mongol itu sekitar tiga kali luas daratan Indonesia! Ini adalah bencana kemanusiaan yang bias dikatakan lebih sadis dari apa yang pernah dilakukan oleh Nebukadzer.
Tekanan dan invansi Bangsa Mongol itulah yang menjadikan rombongan kabilah kecil di Asia Tengah mengungsi dari daerahnya menuju kearah barat. Kabilah kecil itu bernama kabilah Oguz yang dikepalai oleh seorang pimpinan kabilah bernama Ertogrul. Rombongan dari kabilah Oguz ini hanya terdiri dari sekitar 100 kepala keluarga. Akhirnya, setelah menempuh perjalanan ratusan mil sampailah mereka di kawasan Asia Kecil. Mereka meminta perlindungan dari penguasa muslim setempat, yaitu Sultan Alaudin II yang memimpin Kerajaan Saljuk.
Kebetulan saat itu Sultan sedang berperang melawan Bizantium yang wilayahnya memang berbatasan dengan Kerajaan Saljuk. Maka kedatangan rombongan itu tidak disia-siakan olehnya. Mereka diminta membantu Sultan guna memperkuat tentaranya.
Ternyata kedatangan Kabilah Oguz dalam peparangan memberikan pengaruh yang sangat signifikan. Sultan meraih kemenangan gemilang atas Bizantium. Sebagai bentuk terimakasih Sultan, Ia memberikan hadiah berupa sebidang tanah kepada Kabilah ini untuk dibina. tanah pemberian Sultan ini berbatasan langsung dengan wilayah Bizantium. Untuk itu Sultan member wewenang kepada Kabilah Oguz untuk meluaskan tanahnya ke wilayah Bizantium.
Sejak saat itu Ertogul sebagai pimpinan kabilah giat membantu Sultan Alaudin II dalam berjihad melawan pasukan Bizantium. sebidang demi sebidang tanah Bizantium berhasil dibuka, dengan demikian wilayah yang dihuni Kabilah Oguz semakin meluas.
Namun pada tahun 1289 M Ertogrul meninggal dunia. Estafet kepemimpinan Kabilah Oguz beralih kepada putranya, Usman. Usman adalah seorang yang memiliki pribadi ideal sebagai pemimpin. Ia adalah seorang yang adil, bijaksana, dan selalu menepati janji walaupun dengan lawannya. Ia juga dikenal sebagai sosok pejuang keras yang ikhlas. Sebagai Pimpinan Kabilah Oguz, Ia meneruskan perjuangan ayahnya membantu Sultan Alaudin II dalam berjihad melawan Bizantium. benteng-benteng strategis di wilayah Bizantium berhasil ditundukannya. Ia selalu memperoleh kegemilangan dalam setiap perang, hal ini disebabkan selain karena kepandaian siasatnya, pihak Kerajaan Saljuk tentu juga memberikan dukungan kepadanya.
Pada tahun 1300 M Bangsa Mongol tiba-tiba mengalihkan penjarahannya kepada Kerajaan Saljuk. Untuk sementara jihad Usman melawan Bizantium dihentikan. Ia beserta para pemuka Kabilahnya diminta untuk membantu Sultan mengatasi masalah yang jauh lebih besar, yaitu menghadapi Bangsa Mongol yang terkenal sangat kejam itu. Karena memang saat itu tidak banyak peperangan Bangsa Mongol yang dimenangkan pihak lawan. Untuk itu Sultan harus memberikan perhatian ekstra demi menjaga Kerajaan dan umat islam yang berlindung didalamnya.
Ternyata tentara mongol masih terlalu perkasa untuk dikalahkan. sultan terbunuh dalam perang itu, dan nasib Kerajaan Saljukpun sama dengan nasib Kerajaan-kerajaan lain, dihancurkan, dibakar, dan penduduknya disiksa! Sejak saat itu wilayah yang tadinya merupakan bagian Kejaaan Saljuk terpecah-pecah.
Momentum ini justru dimanfaatkan oleh Usman untuk melepaskan diri dari Kerajaan Saljuk. Setelah Sultan Alaudin II tewas dalam peperangan, Usman mendeklarasikan kemerdekaaan penuh atas wilayahnya. Ia mendirikan Kerajaan Islam baru yang dikemudian hari dikenal oleh masyarakat muslim sebagai Khilafah Usmaniyah atau Khilafah Turki Usmani. Nama Usmaniyah disandarkan kepada Usman putra Ertogrul sebagai pendiri.
Khilafah Usmaniyah menyambung rantai kekhilafahan sebelumnya, yaitu Khilafah Umawiyah, dan Khilafah Abbasiyah. Para ulama` pada masa itupun sepakat bahwa Khilafah tidak harus berada ditangan Quraisy. Namun boleh juga dibawah kendali bangsa non-arab seperti Turki.
Khilafah Turki Usmani dalam perjalanannya menorehkan tinta emas dalam sejarah. Jika pada abad ke 8 umat islam pernah Berjaya pada masa Khilafah Abbasiyah dan Imarot Spanyol Islam, maka pada abad pertengahan ikon kemajuan dan kekuatan islam adalah Khilafah Turki Usmani. Terutama kemajuan dalam kemiliteran, Turki Usmani memiliki tentara pilihan yang sangat ditakuti, yaitu pasukan yenissary yang sudah dibentuk oleh Sultan kedua Dinasti Usmaniyah, Orkhan.
Salah satu dari para Sultan yang namanya sangat dikenal dalam buku-buku sejarah timur dan barat adalah Sultan ke-7, Muhammad II yang lebih dikenal dengan Muhammad Al-Fatih. Masyarakat barat memanggilnya Mehmed II. Al-Fatih adalah sebuah gelar yang disandarkan kepadanya setelah Ia berhasil menaklukan Kota Konstantinopel yang dulunya merupakan Ibu Kota Romawi Timur.
Sebenarnya obsesi untuk membuka kota yang dibangun Kaisar Constantin I pada tahun 330 M ini merupakan impian setiap penguasa muslim di setiap zaman. Ini karena keyakinan yang tertancap kuat dalam jiwa mereka bahwa kota bersejarah itu pasti akan dikuasai oleh kaum muslimin. Dalam musnad riwayat Imam Ahmad disebutkan bahwa nabi Muhammad bersabda: “Sungguh kota konstantinopel ditangan seorang laki-laki. Maka sebaik-baik pemimpin adalah pemimpin itu, dan sebaik-baik tentara adalah tentaranya”. Maka tak heran jika para penguasa muslim berlomba-lomba untuk meraih predikat sebaik-baik pemimpin itu.
Terlepas dari hadis Nabi diatas, kota konstantinopel sebetulnya dianggap sebagai kota terpenting didunia karena letaknya yang sangat strategis. Usaha kaum muslimin untuk menyerang konstantinopel pertamakali adalah pada masa Khalifah Muawiyah bin Abi Sufyan pada tahun 44 H. Namun serangan itu belum berhasil. Bahkan seorang sahabat Nabi yang bernama Abu Ayub Al-Anshori meninggal saat mengepung kota ini. Setelah itu beberapa kali kaum muslimin menyerang kota ini, namun belum ada yang berhasil. Serangan yang cukup besar adalah pada tahun 190 H oleh Khalifah Harun Al-Rasyid dari Dinasti Abbasiyah. Serangan kali ini cukup menimbulkan gejolak didalam negeri Bizantium. namun meskipun demikian, tembok-tembok konstantinopel masih terlalu kokoh untuk dihancurkan. Setelah serangan pertama oleh kaum muslimin, kota ini masih berhasil bertahan selama 7 abad lamanya.
Konstantinopel baru berhasil ditaklukan oleh Sultan Muhammad II melalui pertempuran yang sangat ketat. Walaupun Sultan menggunakan meriam dalam perang, namun konstantinopel tidak mudah untuk ditembus. Saat itu meriam adalah senjata perang paling modern dan belum banyak digunakan. Moncong-moncong meriam pasukan usmani selalu terarah ke tembok benteng konstantinopel. Setiap hari letusan meriam dengan dahsyatnya menghujani tembok-tembok itu.
Strategi Sultan dalam penaklukan konstantinopel ini sangat teliti dan cerdas. Sejak awal dia dilantik menjadi Sultan, perhatiannya langsung difokuskan untuk hal ini. Mulai dari membangun benteng Romali Hishar di wilayah selatan Eropa di selat Bosphorus, penghimpunan meriam, memperkuat armada laut, melakukan kontrak politik dengan Negara-negara lain supaya tidak tiba-tiba menyerang Kerajaan Usmaniyah saat perhatian Sultan terarah ke konstantinopel hingga masalah-masalah ruhiyah seperti memberikan motifasi kepada para tentaranya untuk selalu berusaha merealisasikan janji Nabi. Ia selalu mengingatkan pujian Nabi terhadap tentara yang mampu menaklukan konstantinopel. Ia sangat berharap bahwa pasukan yang dimaksud oleh Nabi itu adalah pasukannya.
Pertempuran itu berlangsung sangat ketat. Pasukan Usmani bahkan sampai melubangi tanah dari depan tembok dan membuat terowongan bawah tanah menuju kedalam kota. Harapannya adalah supaya pasukan usmani dapat menembus kota melalui terowongan itu. Akan tetapi pasukan Bizantium menyadari hal itu, ketika terowongan berhasil menembus permukaan tanah di dalam kota, pasukan Bizantium segera menyiram terowongan itu dengan minyak dan membakarnya. Pasukan Usmani yang berada didalamnya tewas terbakar! Pengepungan selama puluhan hari itu masih belum memperlihatkan hasil. Namun satu hal yang pasti adalah, semakin lama persediaaan makanan di dalam kota akan terus menipis seiring dengan semakin lamanya pengepungan berlaku.
Pembuatan terowongan bawah tanah tampaknya tidak berhasil, armada lautpun dikerahkan untuk menyerang kota melalui jalur laut. Namun alangkah terkejutnya pasukan Usmani saat mengetahui bahwa satu-satunya akses menuju kota lewat jalur laut telah dihadang oleh sebuah rantai besar yang telah disiapkan tentara Bizantium untuk mencegah kapal-kapal Usmani masuk. Rantai itu menghadang gerak maju armada Usmani. Bahkan beberapa kali armada Usmani mengalami kekalahan.
Melihat realitas yang semakin terpuruk ini Perdana Mentri Usmani yang bernama Khalil Pasya selalu membujuk Sultan untuk menghentikan perang dan mengubah keputusannya untuk menguasi konstantinopel. Namun Sultan tidak menerima usulan itu dan tetap berfikir keras untuk dapat membukanya, walaupun moral pasukan Usmani sudah mulai menurun. Maka, terbesitlah strategi luar biasa pada benak Sultan. Yaitu membawa kapal-kapal Usmani masuk wilayah Bizantium melalui jalur darat, yaitu dengan menyeretnya melalui gunung. Kapal berjalan diatas gunung! Ini adalah strategi yang tidak biasa pada masa itu!
Dengan cara demikian, kapal-kapal Usmani berhasil masuk Tanjung Emas yang dihadang oleh rantai besar. Tentara Bizantium yang mengetahui hal itu tersentak kaget dan tidak percaya.
Akhirnya, pada hari selasa tanggal 29 Mei 1453 M serangat umum melalui jalur darat dan jalur laut dilancarkan. Dan kota konstantinopel jatuh pada hari itu juga, termasuk raja Bizantium Constantin tewas dalam serangan umum itu. Mimpi selama 8 abad itu akhirnya terealisasikan, Sejarah Kerajaan Romawi Timur yang sangat panjang dan sangat melegenda akhirnya berakhir disini, dibawah kilatan pedang Sultan Muhammad II. Sultanpun segera bersujud syukur kepada Alloh atas kemenagan yang tidak disangka-sangka ini.Setelah itu konstantinopel dijadikan Ibu Kota Khilafah Usmaniyah dan diganti nama menjadi Islambul yang berarti kota islam. Belakangan orang menyebutnya Istanbul. Kota ini sekarang berada di Turki.
Dengan demikian Khilafah Usmaniyah telah mewarisi Kekaisaran Romawi Timur yang dulu pernah dipimpin oleh kaisar constantin I yang terkenal itu, sekaligus sebagai pewaris kekhilafahan Islam yang pernah berjaya dibawah Khalifah besar seperti Khalifah Harun Al-Rasyid. (sumber: http://fahrihidayat.blogspot.com)
