#

Rabu, 07 Oktober 2009

KHALIFAH UMAR THE GREAT


Oleh:
Fahri Hidayat

Hijaz merupakan daerah gurun pasir yang sangat gersang di Jazirah Arabia. Tidak banyak macam tumbuhan hijau yang bisa tumbuh ditempat ini. Belum lagi sinar matahari yang begitu terik menjadikan daerah ini selalu panas disiang hari dan sangat dingin dimalam hari.

Dahulu wilayah ini hanya dihuni oleh suku-suku dan kabilah kecil yang saling memerangi satu sama lain. Suku-suku ini sering berperang hanya karena masalah-masalah yang sangat sepele. Sering juga membangga-banggakan sukunya masing-masing. Namun cahaya islam telah menerangi dada-dada mereka yang gelap, sehingga mereka bersatu dalam ikatan aqidah islamiyah. Islam telah menghapus rasa sukuisme dan fanatisme kelompok, serta menghimpun mereka dalam ikatan yang kokoh.

Melihat kondisi yang demikian, wajar saja jika kerajaan-kerajaan besar yang ada saat itu tidak berselera untuk menjadikan Hijaz sebagai wilayah kerajaan. Mungkin saja para Raja dan Kaesar berfikir tidak ada untungnya menguasai daerah gersang seperti itu, walaupun sebenarnya dapat ditaklukan dengan mudah jikalau mereka mau.


Di daerah yang gersang inilah Ibu Kota pemerintahan islam berada, yaitu di kota yatsrib yang lebih dikenal dengan sebutan Madinah Al-Munawaroh, yang berarti kota yang bercahaya. Ini karena dari kota inilah cahaya islam terpancar ke seantero dunia. Kota Madinah telah menyaksikan sekian banyak peristiwa-peristiwa besar mulai dari perang khondak antara pasukan muslim melawan sekutu, sampai peristiwa meninggalnya Nabi Muhammad. Kota yang dulunya terpencil ini secara mendadak dan tiba-tiba menjelma menjadi sebuah Negara islam yang maju.

Disinilah Khalifah Umar bin Khotob tinggal dan mengatur urusan Negara. Khalifah adalah sebuah gelar untuk seorang pimpinan politik dalam islam. Di Romawi pimpinan negara dikenal dengan sebuatan Kaisar, di Persia disebut dengan Kisra, di Rusia seorang pimpinan politik dijuluki dengan Tsar, demikian juga di Negara-negara barat pada abad pertengahan terkenal dengan sebutan King atau Raja. Namun makna substansi Khalifah jauh lebih luas dan lebih dalam dari pada gelar-gelar kepemimpinan yang lainnya. Karena Khalifah bukan hanya sekedar sebagai gelar pimpinan politik, tapi juga berarti imam bagi kaum muslimin yang harus selalu menekan warganya untuk berpegang teguh kepada Al-Qur`an dan As-Sunnah.

Umar bin Khatab dilantik menjadi Khalifah menggantikan pendahulunya, Abu Bakar yang hanya memimpin selama 2 tahun. Dulunya Umar adalah penentang keras dakwah islam. Bahkan ia adalah seorang penyembah berhala yang kejam. Dalam sebuah kisah disebutkan bahwa ia pernah membunuh putri kandungnya sendiri lantaran malu memiliki anak perempuan. Dalam tradisi sebelum islam di masyarakat Arab, memiliki anak perempuan adalah sebuah aib yang memalukan. Alasannya adalah karena anak perempuan tidak bias diajak perang. Sedangkan perang antar suku pada saat itu merupakan sebuah keniscayaaan. Betapa bisa dibayangkan berapa banyak bayi perempuan tak berdosa yang dibunuh saat itu! Namun Alloh memberi Umar hidayah sehingga hatinya luluh untuk masuk islam. Dalam perjalanannya, Umar yang dulunya penentang dakwah islam justru berbalik menjadi tokoh islam utama yang selalu berada disisi Nabi bersama sahabat besar lainnya.

Saat menjadi Khalifah Umar bin Khotob menyusun pasukan untuk melakukan ekspansi dakwah besar-besaran di wilayah Kekaisaran Bizantium dan Persia secara serentak dan relatif bersamaan. Ini adalah sebuah keputusan yang sangat fenomenal pada masa itu! Betapa tidak, Kekaisaran Bizantiun adalah sebuah Kerajaan Super Power yang menjadi ikon kemajuan abad itu, demikian pula dengan Kerajaan Persia yang memiliki ratusan ribu tentara terlatih dan persenjataan perang paling modern. Belum lagi jika melihat perimbangan pasukan yang sangat tidak seimbang. Saat melawan Persia pada Perang Cadesia saja jumlah pasukan islam hanya sekitar 40.000, sedangkan pasukan pihak lawan berjumlah 200.000 tentara. Ini artinya seorang pasukan muslim harus berhadapan dengan 5 orang musuh! Belum lagi dengan persenjataan yang juga tidak sebanding. Jika mempertimbangkan itu semua, maka keputusan Khalifah Umar bin Khotob untuk menyerang patut kita beri apresiasi sebesar-besarnya. Karena keputusan besar seperti itu tidak mungkin keluar dari seorang pengecut. Keputusan besar hanya akan muncul dari jiwa yang besar juga. Bayangkan saja apa resikonya jika kaum muslimin sampai kalah perang, eksistensi kaum muslimin bisa jadi tidak lagi eksis dan besar kemungkinan kaum muslimin akan ditindas dan dijadikan budak yang diperjual belikan! Namun, walaupun kalah dari segi kuantitas, sarana, dan pengalaman berperang, pertempuran pada masa Khalifah Umar selalu berakhir dengan kemenangan gemilang ditangan kaum muslimin.

Pada tahun 635 M Damaskus yang merupakan Ibu Kota Siria berhasil ditaklukan oleh pasukan muslimin. Setahun kemudian, tentara bizantium yang berjumlah berlipat-lipat lebih banyak berhasil dihancurkan. Akibatnya seluruh wilayah Siria menjadi daerah kekuasaan Islam. Kemudian secara berturut-turut Palestina dan Mesirpun jatuh ke tangan pasukan islam.

Di bagian timur, gelombang ekspansi dakwah juga berhasil meraih kesuksesan yang sama gemilangnya dengan kesuksesan di bagian barat. Setelah Ibu Kota Persia, Ctesiphon berhasil ditaklukan, dengan sendirinya berakhir pula sejarah Kerajaan Persia yang pernah dipimpin oleh Raja Cyrus The Great ini. Dengan demikian, peta kekuatan di dunia berubah drastis dengan begitu cepatnya. Islam muncul sebagai kekuatan baru yang mau tidak mau harus diperhitungkan.

Palestina dan Mesir dulunya merupakan daerah jajahan Persia. Namun setelah melalui sebuah pertempuran yang sangat sengit, akhirnya kedua wilayah subur itu berhasil direbut oleh Bizantium. Namun ternyata bangsa Romawi tidak lama menikmati kemenangan mereka atas Persia dalam merebut Palestina dan Mesir, karena sekarang mau tidak mau mereka dihadapkan dengan kekuatan baru yang tiba-tiba muncul, yaitu kekuatan islam yang sebelumnya sama sekali tidak diperhitungkan. Akhirnya Kaisar Bizantiumpun harus rela melepaskan kembali Mesir dan Palestina yang telah Ia dapatkan dengan harga yang sangat mahal!

Dengan demikian wilayah kekuasaan Islam pada masa Umar meliputi Jazirah Arabia, Mesir, Palestina, Siria, dan Persia. Jika dikatakan sebagai sebuah imperium, ini adalah imperium yang mungkin paling fenomenal pada masa itu!
Khalifah Umar bin Khatab tidak hanya berkosentrasi pada perluasan wilayah saja, namun juga mengatur administrasi Negara dengan mencontoh yang sudah berkembang, terutama Persia. Wilayah islam yang luas itu dibagi menjadi 8 propinsi. Dimana dimasing-masing propinsi dikepalai oleh seorang Gubernur. Beberapa departemen juga didirikan, seperti Departemen Khazraj yang mengatur masalah perpajakan. Jabatan kepolisian juga dibentuk demi menjaga keamanan Negara. Demikian pula lembaga pengadilan didirikan pula untuk menyelesaikan masalah-masalah hukum.

Khalifah Umar bin Khatab adalah seorang pemimpin teladan dan ideal. Kebesaran pengaruhnya melebihi Alexander The Great, Raja Macedonia. Karena Alexander hanyalah seorang penakluk besar pada zamannya, namun tidak meninggalkan pengaruh berupa peradaban atau semisalnya pada daerah taklukannya. Setelah ia meninggal, wilayah yang pernah ditaklukannyapun terpecah-pecah, dan pengaruhnya pun semakin surut. Ia hanya seorang penakluk yang brilian. Beda halnya dengan Umar. Umar bukan hanya piawai dalam masalah perang dan administrasi Negara, namun ia juga dikenal sebagai sosok yang sangat sederhana. Bahkan dikisahkan bahwa pakaian yang dipakainya adalah pakaian yang penuh dengan jahitan. Sampai-sampai para sahabat merasa iba jika melihatnya. Padahal ia adalah pemimpin besar yang telah menghancurkan Kerajaan Persia! Kesederhanaan dan suri tauladannya yang menjadikannya dicintai oleh rakyatnya. Bahkan penduduk Kristen koptik di Mesir sebelum ditaklukan oleh Islam justru menginginkan mereka dipimpin oleh Khalifah Umar dari pada dipimpin oleg Gubernur Bizantium. Maka, wilayah-wilayah yang telah ditaklukan Umar tetap menjadi Negara islam, hingga saat ini!

Pernah pada suatu hari ada seorang utusan dari Persia ingin berjumpa dengan Khalifah Umar. Oleh seseorang utusan tersebut diberitahu bahwa Khalifah biasanya menyendiri dibawah pohon kurma. Yang terbayang dibenaknya saat itu adalah taman kurma di istana yang megah sebagaimana yang sering disaksikannya di Istana Putih Persia. Namun alangkah terkejutnya dia saat melihat Umar yang berpakaian sangat sederhana, tanpa pengawal, dan hanya seorang diri dibawah pohon kurma!
Seorang sejarawan Kristen bernama Michael Hart bahkan memasukkan nama Umar bin Khotob kedalam seratus tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah umat manusia. Umar adalah seorang pemimpin sejati, Dia pernah berkata “Andai ada seekor keledai yang terjatuh di jalan kota, maka tentu aku akan diminta pertanggungjawaban dihadapan Alloh”. (sumber: http://fahrihidayat.blogspot.com)