
Oleh: Fahri Hidayat
Belajar bukan hanya sekedar proses mendapatkan informasi baru yang sebelumnya belum di ketahui. Namun lebih dalam dari itu, yaitu proses menggabungkan antara apa yang sudah di fahami dengan sesuatu yang baru di dapatkan. Oleh karena itu satu informasi yang sama bisa jadi akan menghasilkan “produk pemikiran” baru yang berbeda-beda oleh masing-masing peserta didik. Hal ini di sebabkan oleh berbagai faktor, diantaranya yang paling penting adalah bakat, minat, dan pengalaman belajar.
Bakat adalah kemampuan dan kompetensi pada peserta didik yang merupakan bawaan sejak lahir. Anak yang baru lahir bukanlah seperti kertas kosong yang bisa di isi dengan tulisan apapun. Namun ia sudah membawa bakat tertentu yang apabila dalam perkembangannya di dukung oleh lingkungan berpotensi besar untuk melejit. Namun bakat tersebut tidak akan menemukan momentumnya untuk berkembang apabila tidak ada minat yang kuat untuk mengembangkannya. Maka untuk mencapai sebuah keberhasilan tidak cukup hanya dengan bakat, namun juga harus ada minat. Minat yang kuat bisa jadi lebih berperan dalam meraih keberhasilan dari pada bakat. Seseorang yang sebenarnya tidak terlalu berbakat dalam dunia tulis menulis misalnya, ia bisa jadi lebih pandai dari orang yang berbakat apabila memiliki minat yang kuat untuk mengembangkan diri dalam bidang tulis menulis. Sedangkan pengalaman belajar adalah rangkaian peristiwa yang di alami oleh seseorang selama hidupnya. Ketiga faktor inilah yang menjadi penyebab mengapa respon orang terhadap satu informasi yang sama bisa jadi berbeda-beda.
Anak yang baru saja masuk bangku SMP misalnya, mereka bukan memulai belajar dari nol. Mereka sudah sangat lama menjalani proses belajar semenjak dari lahir hingga saat masuk SMP. Pengalaman belajar itulah yang nanti akan mempengaruhi perspektif mereka terhadap informasi-informasi baru yang akan mereka dapatkan. Nah, karena bakat masing-masing anak sangat beragam, maka sebelum seorang guru memberikan instruksi kepada mereka untuk mulai belajar, akan sangat baik apabila guru terlebih dahulu mengajarkan bagaimana cara belajar yang baik. Atau belajar bagaimana belajar.
Belajar bagaimana belajar adalah mengajak perserta didik untuk menemukan pola belajar terbaik untuk mereka sendiri. Ini adalah masalah yang sangat urgen dalam proses belajar. Karena banyak anak yang memiliki minat belajar tinggi namun tidak memperoleh hasil belajar yang maksimal karena pola belajar yang salah. Untuk itu sebelum memulai belajar peserta didik harus di bimbing untuk menemukan pola belajar yang terbaik untuk mereka.
Seorang anak dengan tipe auditori mungkin lebih mudah memahami pelajaran dengan menggunakan kaset rekaman materi. Demikian juga anak dengan tipe visual mungkin lebih mudah memahami pelajaran dengan melihat. Namun pada prinsipnya belajar yang baik adalah belajar yang melibatkan otak belahan kanan dan otak belahan kiri secara maksimal. Ketika seorang anak mendengarkan penjelasan guru, otak kirinya fokus untuk mencerna inti materi yang di ajarkan oleh guru. Sedangkan otak kanannya berfokus pada bagaimana guru menjelaskannya.
Belajar bagaimana belajar haruslah di mulai dari pengetahuan tentang otak manusia. Anak harus di bekali dengan pengetahuan tentang apa fungsi dari otak kanan dan otak kiri. Keduanya memainkan peranan yang berbeda. Lalu bagaimana cara mengembangkannya. Dengan demikian anak akan memiliki perspektif yang utuh tentang belajar yang efektif dan efisien, serta dapat membaca bakat dan kecenderungannya masing-masing.
Selain pengetahuan tentang otak, anak juga harus di berikan langkah-langkah praktis untuk dapat belajar dengan baik. Misalnya -terkait dengan fungsi otak kanan dan otak kiri- anak di berikan langkah untuk tidak sekedar membaca materi, namun juga menuliskan materi itu dalam bentuk peta konsep ataupun coret-coretan untuk meningkatkan tingkat keteringatan pada materi. Ini adalah upaya untuk meyeimbangkan antara otak kiri dan otak kanan. Menulis adalah pekerjaan sederhana yang berefek besar. Menulis adalah proses mentransfer sesuatu dari zona abstrak ke zona kongkrit. Dan sesuatu yang kongkrit itu akan lebih mudah di ingat dari pada yang hanya ada dalam pikiran abstrak.
Dalam proses pembelajaran, seorang guru tetap harus mempertimbangakan aspek perbedaan sebagaimana di sebutkan diatas. Karena para siswa memiliki bakat dan pengalaman belajar yang berbeda, maka metode yang digunakan juga harus beragam. Metode ceramah mungkin akan lebih mudah di tangkap oleh sebagian anak, namun tidak untuk sebagian yang lain. Menurut sebuah penelitian, guru menjelaskan antara 100 sampai 200 kata setiap menit. Namun siswa hanya dapat memahami 50 sampai 100 kata. Maka media pembelajaran visual ,audio visual, ataupun multi media menjadi sangat berperan di sini. Sebuah gambar atau foto yang di tontonkan kepada siswa sudah mewakili lebih dari 6000 kata. Semakin kongkrit materi yang di ajarkan oleh guru, maka tingkat keteringatannyapun menjadi semakin tinggi.
Prinsipnya, untuk memainkan sebuah game maka tuntutan logisnya adalah mengetahui bagaimana cara memainkannya. Belajar memainkan sebelum benar-benar memainkan. Demikian juga dengan belajar. Sebelum kita memutuskan untuk belajar, kita harus mengetahui terlebih dulu bagaimana cara belajar yang baik. Atau belajar bagaimana belajar sebelum benar-benar belajar. Wallohu A`lam bis shawab. (sumber: http://fahrihidayat.blogspot.com)
Selasa, 11 Mei 2010
BELAJAR BAGAIMANA BELAJAR
19.56.00
Fahri Hidayat
