
Oleh: Fahri Hidayat
Ada sebuah kisah nyata yang bisa kita jadikan sebagai sebuah inspirasi untuk tetap tegar di tengah derasnya gelombang kehidupan. Ini adalah sebuah kisah tentang seorang anak gadis yang di lahirkan di tengah keterbatasan, namun ia mampu menembus batas keterbatasannya hingga meraih predikat kesuksesan yang bahkan jarang di raih oleh orang-orang normal. Anak itu bernama Hellen Keller. Helen di lahirkan di Tuscumbia, Alabama pada 27 Juni 1880. Awalnya dia di lahirkan dalam keadaan normal. Ia adalah gadis manis yang terbilang cerdas. Pada saat usianya menginjak 19 bulan, ia menderita penyakit aneh yang pada akhirnya menyebabkan dirinya menjadi buta, bisu, dan tuli.
Usia 19 bulan adalah usia yang masih sangat dini. Ia belum terlalu banyak mengenal dunianya. Praktis, cacat yang di alaminya menjadikannya sangat sulit untuk dapat berkomunikasi dengan orang lain. Setidaknya kita bisa melihatnya dari dua di dimensi, yang pertama adalah faktor usianya yang masih terlalu dini untuk bisa berkomunikasi dengan baik. dan yang kedua adalah cacat permanen yang di deritanya. Bayangkan saja, bagaimana dia bisa menyampaikan kemauannya pada orang lain dalam keadaan demikian?
Hal itulah yang menjadikan orang lain melihat Helen bertingkah liar dan sulit terkendali. Sebenarnya itu adalah bentuk keinginan dia untuk menyampaikan sesuatu kepada orang lain. Akhirnya, Ayah Helen mulai putus asa dengan masa depan Helen. Ia berinisiatif untuk memasukkan Helen ke Rumah Sakit Jiwa. Namun atas saran seorang Psikolog, Helen tidak jadi di masukkan ke RSJ. Karena RSJ bukanlah tempat yang sesuai untuk Helen. Ia hanya mengalami cacat fisik. Namun sebenarnya kejiwaannya tetap normal.
Orang tuanya kemudian menitipkan Helen pada seorang Psikolog bernama Anne Sullivan. Awalnya pihak keluarga merasa ragu dengannya, karena dalam sejarahnya ia juga pernah mengalami penyakit mata hingga hampir buta. Bahkan ia juga memakai kaca mata untuk membantu penglihatannya. Pihak keluarga berfikir mana mungkin orang buta bisa mengobati orang buta lainnya. Namun pada akhirnya pihak keluarga mempercayakan Helen kepadanya.
Oleh Anne Sullivan, Helen di ajari bahwa setiap benda itu memiliki nama. Anne memanfaatkan indra penciuman dan indra perabaan Helen yang masih normal. Ia mengajari Helen dengan bahasa isyarat tentang nama-nama benda yang di sentuhnya. setiap hari Helen di beri 30 kosakata. Anne sangat sabar dalam membina Helen. Dengan mengenal banyak kosakata, akhirnya Helen bisa berkomunikasi dengan orang lain dengan menggunakan bahasa isyarat tersebut.
Ternyata Helen sangat cerdas, ia bisa menangkap pelajaran dengan cepat. Anne kemudian mengajari Helen membaca dengan huruf braile hingga benar-benar ia kuasai. Dengan cara itulah Helen bisa berkomunikasi dengan dunia.
Helen adalah seorang penulis jenius. pada saat usianya baru menginjak 11 tahun ia sudah menyelesaikan bukunya yang pertama “The King Frost”. selain itu ia banyak menulis buku-buku lain selama hidupnya seperti “My Story Of My Life” yang lewat buku inilah ia menyampaikan kepada pembaca tentang bagaimana ia melihat dunia, dan “Out Of The Dark” yang berkisah tentang seni essai sosialisme.
Pada tanggal 28 Juni 1904 Helen berhasil menyelesaikan studinya di perguruan Tinggi Radcliffe. Ia adalah orang buta, bisu, tuli, pertama yang mendapat gaji dengan gelar seni. Ia juga mendirikan banyak Yayasan yang di peruntukan untuk orang-orang cacat seperti dirinya. ia bahkan aktif mengadakan tour ke puluhan Negara untuk berbagi pengalaman kepada dunia.
Helen telah membuktikan pada dunia, bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk tidak berhasil. banyak orang yang bahkan tidak berani untuk berfikir tentang sebuah keberhasilan. Keterbatasan sebenarnya adalah tantangan untuk kreatif. Zaman dulu orang harus menempuh perjalanan berhari-hari untuk sebuah keperluan yang mungkin sangat sepele. Ini adalah sebuah keterbatasan. Keterbatasan adalah masalah. dan masalah membutuhkan solusi. Maka manusia mulai berfikir bagaimana mengatasi keterbatasan transportasi itu. dan akhirnya di temukanlah sarana transportasi seperti saat ini. Keterbatasan adalah tantangan untuk kreatif!
Bila dalam keadaan bisu, buta, dan tuli, Helen Keller bisa mempersembahkan sebuah karya untuk dunia, maka untuk alasan apa lagi kita berputus asa? Kisah Helen adalah sebuah bukti nyata tentang kekuatan sebuah azzam. Apabila azzam telah berkobar, maka ritangan apapun hanyalah hiasan dalam perjalanan menuju kesuksesan.
Jalan ini masih panjang, kita tidak pernah tau rintangan apa yang telah menanti kita di depan sana. namun yang pasti, tetaplah melangkah ke depan! Yang terpenting untuk mendaki tangga kesuskesan adalah istiqomah dan selalu merujuk pada tujuan akhir. Lihatlah tujuan akhir dengan jelas. Lalu tetapkan langkah-langkah (misi) untuk meraihnya. perlahan tapi pasti. Dan istoqomahlah. Insya Alloh, Alloh akan memudahkan setiap langkah kita. Wallohu A`lam bis shawab.
(sumber: http://fahrihidayat.blogspot.com)
Daftar Pustaka:
Wikimedia Indonesia. Biografi Helen Keller. www.wikimedia.com
Fahri Hidayat. Tsaqofah Center. www.fahrihidayat.blogspot.com
Minggu, 23 Mei 2010
CAHAYA DALAM GULITA
21.02.00
Fahri Hidayat
