#

Senin, 26 Juli 2010

DIALOG ANTARA HATI DAN AKAL


Oleh: Fahri Hidayat

Setiap manusia pasti memiliki semacam indra pendeteksi didalam dirinya yang menggerakkan akalnya untuk kemudian menyimpulkan “ini benar, dan itu salah” atau “itu kurang sesuai, akan lebih baik jika seperti ini” dan kesimpulan-kesimpulan lain semacamnya. Itulah suara hati.

Dalam Islam, kita dianjurkan untuk tidak berfikir dengan menggunakan akal saja. Namun juga berfikir dengan hati. Akal manusia cenderung lebih dapat mencerna hal-hal yang sifatnya kongkrit dan dapat diproses secara logis. Padahal hati bahkan bisa mendeteksi secara lebih dalam tentang hal-hal yang abstrak. Itulah yang disebut dengan keyakinan. Keyakinan tidak selalu dapat di terima oleh logika, namun ia benar-benar ada dan dapat dirasakan.

Mengapa Nabi Muhammad tidak boleh di gambar? Hikmah dari ketidakbolehan menggambar Nabi adalah supaya kita memulai dengan sebuah rasa, dengan sebuah keyakinan. Kita tidak pernah tau secara kongkrit bentuk fisik Nabi, namun kita hanya tau ciri-cirinya sebagaimana dijelaskan dalam beberapa Hadist. Disinilah hati memainkan peranannya untuk berfikir. Berfikir secara lebih mendalam yang pada akhirnya memunculkan sebuah keyakinan. Dan keyakinan akan memunculkan sebuah emosi positif.
Hati nurani yang jernih akan memberikan sebuah firasat yang jernih pula. Firasat adalah sebuah isyarat yang sangat cepat dalam hati. Tidak dipaksa dan muncul dengan sendirinya.

Pada hakekatnya suara hati nurani semua manusia adalah sama. Nurani manusia akan selalu mengirimkan sinyal-sinyal kebaikan untuk kemudian diproses oleh akal kita. Itulah yang oleh Ary Ginanjar Agustian disebut sebagai “anggukan universal”. Karena suara hati manusia semuanya sama-sama memancarkan sinyal kebaikan. Sebagaimana yang telah Alloh firmankan dalam Al-Qur`an yang berarti “sesungguhnya hati itu tidak akan berbohong apabila menilai sesuatu”.

Artinya, semua bentuk keburukan pasti akan di tolak oleh hati nurani. Setiap orang pasti akan merasa tidak nyaman apabila melihat sampah di tengah-tengah taman yang hijau dan indah. Itulah anggukan universal. Hanya saja ada belenggu-belenggu tertentu yang membuat manusia tidak bijaksana dalam mengambil keputusan. Diantara belenggu-belenggu yang berpotensi mengganggu sinyal hati nurani adalah kepentingan.
Pada hari sabtu tanggal 12 Agustus 2000 sebuah musibah terjadi. Kapal selam nuklir Rusia kandas di dasar laut Barents pada kedalaman 119 M dibawah permukaaan air laut. Presiden Rusia saat itu telah mendengar insiden tersebut. Namun ia tidak segera mengambil inisiatif untuk meminta bantuan internasional untuk mengatasi masalah tersebut. Mengapa? Karena menurutnya ini akan merusak citra Rusia di mata dunia. Ia tidak segera mengambil inisiatif karena alasan “kerahasiaaan strategis”. Akhirnya semua yang ada dalam kapal selam itu tewas. Ini adalah sebuah kisah yang sangat tragis. Presiden Rusia lebih mendahulukan kepentingan dari pada suara hati nurani. Kepentingan untuk menutupi aib negaranya yang tidak bijaksana. Ini adalah bukti bahwa kepentingan sangat berpotensi untuk merusak sinyal hati nurani pada diri manusia.

Perubahan niat bisa terjadi begitu saja. Untuk itu sebaiknya kita bersikap hati-hati terhadap hati kita sendiri. Dengarkanlah suara nurani. Karena suara hati adalah sebuah anggukan universal. Ali bin Abi Thalib dalam sebuah peperangan pernah hampir saja menusuk musuh dengan pedangnya. Kemudian musuh itu meludahinya. Ali berpaling dan tidak jadi menusuknya. Ketika ditanya mengapa, ia menjawab bahwa ia takut kalau ia menusuk ternyata niatnya bergeser bukan lagi karena Alloh, tapi karena musuh tersebut meludahinya. Wallohu A`lam bis Shawab.
(sumber: http://fahrihidayat.blogspot.com)