
Oleh: Fahri Hidayat
Ada seorang pemuda yang dengan semangat membara memiliki obsesi untuk mengubah dunia. Dia berjuang mati-matian untuk mewujudkan impiannya mengubah dunia dengan tangannya sendiri. Bertahun-tahun ia habiskan untuk tujuan itu. Namun ia tidak berhasil. Kemudian ia menurunkan levelnya. Ia tak lagi ingin mengubah dunia, namun “hanya” ingin mengubah negaranya. Segala daya dan upaya ia lakukan untuk merealisasikan ambisinya itu. Bertahun-tahun lamanya ia memaras keringat. Namun sekali lagi, ia tak berhasil.
Ketidak berhasilannya itu ternyata tidak membuatnya putus asa. Ia lantas menurunkan lagi levelnya. Kini ia berambisi untuk mengubah kabupatennya. Ia korbankan semua waktunya untuk merealisasikan tujuan tersebut. Sampai-sampai ia melupakan keluarganya dan bahkan dirinya sendiri untuk ambisinya. Namun ternyata takdir berkata lain, ia gagal.
Tiga kali kegagalan tidak membuatnya menyerah. Ia menurunkan lagi levelnya. Ia ingin mengubah desanya. Ia gadaikan usia mudanya untuk tujuan ini, namun sekali lagi ia gagal. Ia menurunkan lagi levelnya. Kini ia hanya ingin mengubah keluarganya. Namun ia gagal lagi.
Rentetan kegagalan itu akhirnya membuatnya berfikir. Di tengah usianya yang sudah tua renta itu akhirnya ia sadar, bahwa untuk mengubah sesuatu ternyata harus di awali dengan mengubah diri sendiri terlebih dahulu. Kini usianya telah senja. Masa mudanya telah ia gadaikan untuk kelelahan-kelelahan tanpa hasil. Ia menyesal. Ia baru sadar, andai dari dulu ia berfikir untuk mengubah dirinya terlebih dahulu, mungkin di usia yang senja ini ia sudah bisa mengubah –setidaknya- kabupaten, provinsi, atau bahkan negaranya.
Kisah diatas adalah sebuah ilustrasi betapa kepribadian menjadi aspek yang sangat penting untuk memimpin umat. Kepribadian adalah sesuatu yang membedakan seseorang dengan orang lain. Ia tidak terbentuk begitu saja. Perlu waktu yang sangat panjang untuk membentuk kepribadian seseorang. Ia bersifat spontanitas. Apa yang muncul secara spontanitas dari seseorang, itulah kepribadiannya.
Dunia ini hanya akan di genggam oleh pribadi-pribadi besar. Orang yang memiliki kepribadian besar adalah orang yang mengukir sejarahnya di dunia ini dengan memulai dari memperbaiki dirinya sendiri, dengan selalu merujuk pada tujuan akhirnya untuk menjadi bagian dari kesuksesan sejarah.
Ikhwanul Muslimin yang di dirikan oleh Hasan Albanna di Mesir adalah contohnya. Pada saat gerakan ini masih terbilang sangat kecil secara kuantitas, Hasan Albanna justru mengatakan bahwa visi gerakan ini adalah untuk menjadi guru bagi peradaban dunia (ustadziyatul alam). Ini adalah sebuah visi yang sangat jauh melampaui langkah kakinya yang masih tertatih tatih. Namun visi besar itu dimulai dengan konsep tarbiyah dzatiyah (membenahi diri sendiri) kemudian membenai keluarga, membangun masyarakat madani, dan seterusnya dari tingkat bawah ke level yang lebih tinggi. Dan hari ini kita dapat menyaksikan Ikhwanul Muslimin telah menjelma menjadi gerakan islam internasional yang paling fenomenal di dunia.
Kepribadian yang mendunia adalah kepribadian yang haus akan ilmu pengetahuan, santun, matang secara emosi dan spiritual, dan selalu bercita-cita setinggi langit. Dan untuk membentuk kepribadian yang demikian harus melalui sebuah proses yang tidak sebentar. Ia membutuhkan ilmu dan pengalaman yang panjang. 2 hal inilah yang pada akhirnya akan mendewasakan kepribadian kita.
Maka, pengembangan diri menjadi sangat urgen. Sebagai seorang muslim kita harus senantiasa memiliki obsesi untuk mewujudkan Islam sebagai rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil `alamin). Mulailah dari hal yang paling kecil dari diri kta. Mulailah dari selalu berfikir positif. Karena pikiran kita adalah awal dari perkataan kita. Perkataan kita adalah awal dari perbuatan kita. Perbuatan kita adalah awal dari kebiasaan kita. Kebiasaan kita akan membentuk kepribadian kita. Dan kepribadian kita adalah takdir kita! Wallohu A`lam bis shawab (sumber: http://fahrihidayat.blogspot.com)
Rabu, 21 Juli 2010
KEPRIBADIAN YANG MENDUNIA
06.34.00
Fahri Hidayat
