#

Minggu, 06 Juni 2010

MUHASABAH HARI ULANG TAHUN



Semakin hari usia manusia semakin berkurang. Detik-detik yang berlalu tak akan pernah kembali lagi. Semuanya hanya akan menjadi sebuah cerita. Cerita masa lalu yang hanya akan terulang lagi dalam kenangan. Manusia tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di esok hari. Untuk itulah manusia di tuntut untuk berikhtiar sekuat tenaga untuk menunaikan visi dari kehidupan ini.

Bagi sebagian orang, hari ulang tahun justru di gunakan untuk berpesta dan berfoya-foya. Ini adalah budaya barat yang sudah meresap di tanah air kita saat ini. Artinya, masalah foya-foya saat ulang tahun bukanlah masalah yang sederhana. Bukan sekedar karena tidak ada tuntunannya dalam agama kita. Namun jauh lebih dalam dari itu. Foya-foya saat ulang tahun merupakan salah satu bentuk tasyabbuh, atau menyerupai orang-orang kafir. Dan tasyabbuh merupakan hal yang sangat di larang dalam islam sebagaimana sabda Nabi “barang siapa yang menyerupai sebuah kaum, maka ia adalah golongan dari kaum tersebut”.

Hari ulang tahun mestinya dijadikan sebagai momentum untuk muhasabah. Manusia yang baik adalah mereka yang paling sering bermuhasabah. Muhasabah adalah bentuk evaluasi diri kita terhadap semua yang telah kita jalani. Saat melakukan sesuatu, kita cenderung melakukannya dengan tanpa memikirkannya dengan jernih dan sistematis. Terkadang sikap kita secara tak sengaja ataupun sengaja menimbulkan efek tertentu yang kurang baik. Maka disinilah muhasabah menjadi sangat penting. Tanpa muhasabah diri, manusia bahkan tidak akan mampu mengenal siapakah dirinya.

Muhasabah akan menjadikan kita memiliki konsep diri yang jelas. Konsep diri yang jelas itulah yang pada akhirnya akan menjadikan kepribadian kita semakin matang. Menjadi manusia yang bijaksana bukanlah sesuatu yang bisa di wujudkan dalam sekejap. Kebijaksanaan adalah keterampilan. Maka untuk mewujudkannya harus melalui sebuah mekanisme latihan secara rutin dan berkelanjutan. Dan semuanya tak akan dapat di raih tanpa adanya koreksi diri atau muhasabah.

Hari ulang tahun adalah momentum untuk mengevaluasi apa saja yang sudah kita lakukan dalam setahun, karya apa yang sudah kita hasilkan, kontribusi untuk umat islam apa yang sudah kita sumbangkan, ilmu-ilmu apa yang sudah kita kembangakan, dan apakah semua capaian itu lebih baik dari tahun kemarin ataukah sama atau bahkan lebih buruk?... pertanyaan-pertanyaan seperti itu harus selalu muncul dalam setiap muhasabah kita. 

Muhasabah jangan hanya di fikirkan saja. Karena ruang fikiran adalah zona abstrak. Akan menjadi sangat baik apabila kita menuliskannya dalam buku khusus, buku muhasabah. Semua koreksi diri itu kita tulis dari hari ke hari, dari bulan ke bulan, dan dari tahun ketahun. Dengan demikian kita bisa selalu memantau sejauh mana perkembangan diri kita dan seberapa bermanfaatkah diri kita untuk diri kita sendiri dan untuk orang-orang di sekitar kita. Untuk mengetahui kontribusi apa yang harus kita sumbangkan kita harus melihat apa yang di butuhkan oleh masyarakat kita saat ini, skill apakah yang kita miliki, skill apa yang harus bisa kita miliki. Jawaban dari ketiga pertanyaan itulah wilayah kontribusi kita. 

Dalam islam kita diajarkan untuk selalu menjadikan hari kita lebih baik dari hari-hari kemarin. Dalam sebuah hadis dijelaskan bahwa barang siapa yang hari ini lebih baik dari kemarin, maka dia adalah orang yang beruntung. Dan barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin maka dia di katagorikan sebagai orang yang merugi. Dan barang siapa yang bahkan hari ini lebih buruk dari kemarin, Nabi mengatakan dia adalah orang yang dilaknat. Untuk itu momentum hari ulang tahun ini harus menjadi momentum untuk terus meningkatkan kualitas diri supaya lebih baik dari hari ke hari dan semakin bermanfaat bagi umat dan agama. Semuanya itu akan dapat kita raih dengan selalu bermuhasabah. Wallohu A`lam. (sumber: http://fahrihidayat.blogspot.com)